Bukan Orang, Tapi Helm Dan Batu Ramai Antri e-KTP

Zombiedefense.org – Ada kejadian aneh di Kantor Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Cirebon sejak dua minggu belakangan. Halaman Kantor Dinas dipenuhi oleh antrian yang tidak wajar seperti helm, sandal, botol minuman, bahkan batu bata.

Suyatno, selaku Kabid Pendaftaran Penduduk mengungkapkan bahwa kejadian aneh ini terjadi karena sebelumnya para masyarakat selalu berebut antrian. Sehingga muncul ide kreatif untuk menggunakan helm, sandal, jas hujan, dan lainnya untuk menggantikan antrean pelayanan Elektronik Kartu Tanda Penduduk (e-KTP).

Diakui Suyatno, ide masyarakat ini cukup membantu pada saat memberikan nomer antrean kepada masyarakat. “Kita bagikan nomor antreannya sekitar pukul 06.30 WIB. Tapi, warga sudah mengantre pakai helm, sandal, dan lainnya. Mungkin capek kalau berdiri terus, soalnya kan mereka datang dari pukul 03.00 WIB,” ucap Suyatno saat ditemui di kantor Disdukcapil Kabupaten Cirebon, Rabu (20/12/2017).

Suyatno juga menambahkan bahwa Disdukcapil membatasi pelayanan karena melihat jumlah dan kemampuan dari jaringan dan mesin cetak yang ada. Disdukcapil Kabupaten Cirebon setiap harinya selalu membagikan 250 nomer antrean.

“Kita punya empat mesin cetak, kalau dipaksakan malah tidak tertib. Makanya kami hanya membagi 250 nomor antrean,” ucapnya.

Suyatno juga mengatakan bahwa penyelerasan antara dinas dan kecamatan diperlukan agar masyarakat tidak bolak-balik untuk mengantri. Mengenai berapa banyak orang yang telah ditolak untuk pelayanan, Suyatno tidak menjawabnya dan mengatakan dirinya tidak punya kewajiban itu.

“Yang mendapatkan antrean itu, yang siap cetak. Memang kadang ada yang salah paham, di kecamatan kan ada operatornya. Kalau surat keterangan (suket) sudah enam bulan lebih dan terkomputerisasi itu tandanya bisa langsung cetak,” ucapnya.

Karena terbatasnya nomer antrean yang dibagikan, menurut informasi antrean helm, sandal, jas hujan, batu bata, dan botol minuman itu dimulai sekitar pukul 02.00 WIB.

Bahkan salah seorang warga mengakui bahwa dirinya datang jam 02.00 WIB. Tetapi sempat pulang lagi karena Disdukcapil belum dibuka. “Saya pulang lagi ke rumah. Terus datang lagi ke sini ikut ngantre sekitar pukul 03.00 WIB. Saya dapat antrean nomor enam,” kata Abidzar

Leave a Comment

(0 Comments)

Your email address will not be published. Required fields are marked *